Minggu, 23 November 2014

Gambar 1.3 Pemain ketika beraksi diatas panggung
 (Foto: Adhitya)
" Lenong yang dulu hanya pentas di kampung-kampung yang mayoritas kalangan menengah ke bawah, kini sudah berevolusi ke tempat-tempat mewah berskala internasional yang mayoritas di kunjungi masyarakat kalangan menengah ke atas. "

Kampung Betawi, Jakarta Selatan (21/9) Di tengah padatnya ibukota, lenong menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke kota metropolitan ini. Selain menghibur, skenario lenong juga mengandung nilai moral. Lenong yang dulu hanya pentas di kampung-kampung yang mayoritas kalangan menengah ke bawah, kini sudah berevolusi ke tempat-tempat mewah berskala internasional yang mayoritas di kunjungi masyarakat kalangan menengah ke atas.

Lenong betawi menggunakan bahasa melayu (Indonesia) dengan logat betawi yang khas dalam pementasannya. Dengan menggunakan logat betawi, sehingga penonton yang mayoritas masyarakat betawi juga semakin mudah untuk mengerti apa yang di ucapkan pemain.

Selain itu, Karena cerita yang di bawakan masalah sehari-hari, kostum yang di gunakan juga pakaian sehati-hari, sehingga keakraban antara penonton dan pemain semakin terasa.
Kedekatan tersebutlah yang menarik masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan lenong betawi ini. Bahkan ada masyarakat yang awalnya datang ke suatu tempat hanya untuk rekreasi atau sekedar lewat saja, namun setelah melihat ada pertunjukan lenong masyarakat tersebut berhenti dan menyaksikan pertunjukan lenong tersebut “awalnya si saya sama tetangga-tetangga saya dateng ke sini mau rekreasi, naik bebek-bebekan, eh malah jadi nonton lenong” ujar Yuli (48), penonton lenong betawi dari depok. (Reza)

1 komentar: