Minggu, 23 November 2014

Di Balik Panggung Lenong Betawi

Gambar 1.2 Ketika pentas lenong berlangsung 
(Foto: Adhitya)
" Mendirikan sanggar lenong yang baru bukan semata-mata ingin memiliki sanggar sendiri, namun karena kepeduliaan untuk melestarikan budaya Betawi, khususnya lenong."

Kampung Betawi, Jakarta Selatan (21/9) Pertunjukan lenong sangat kental dengan budaya Betawi karena di bawakan dengan dialek Betawi dan diiringi musik gambang kromong. Musik gambang kromong yang ceria, dialog kocak dan blak-blakan, ditambah sedikit tarian atau gerakan silat yang lincah menjadi ciri khas lenong, karena pada umumnya pemain lenong Betawi mahir bermain silat.

Para pemain saling bertukar dialog dalam dialeg betawi sambil sesekali melontarkan celetukan-celetukan kocak yang diiringi bunyi singkat dari satu atau dua alat musik gambang kromong. Ada dua sebutan untuk pemain lenong yaitu Panjak artinya pemain laki-laki dan ronggeng artinya pemain perempuan. Setelah berkecimpung menjadi pemain lenong, kebanyakan pemain akan membuat sanggar lenong baru ataupun  
meneruskan sanggar lenong yang menjadi tempat ia belajar dan mendapat pengalaman, seperti Hasanudin (57) yang kini telah memiliki sanggar lenong sendiri setelah menjadi pemain di sanggar lenong Jayasari “Pengalaman-pengalaman banyak yang kita dapet dari sini, nambah ilmu, karena sering tampil jadi tambah pengalaman, alhamdulillah sampai saya juga punya sanggar lenong sekarang” ujarnya.

Mendirikan sanggar lenong yang baru bukan semata-mata ingin memiliki sanggar sendiri, namun karena kepeduliaannya untuk melestarikan budaya betawi, khususnya lenong “ karena budaya Betawi sudah hampir hilang, kalau bukan kita yang memajukan siapa yang mau memajukan, justru budaya Betawi itu jangan sampai hilang, mari kita majuin sama-sama” ujar Hasanudin. (Reza)

0 komentar:

Posting Komentar