Senin, 03 Agustus 2015

Dua Porsi Bakso Balungan dengan Es Dawet Segar (foto : Putri DS)




" Awalnya kepengen tau bakso balungan itu apa, terus pas udah kesini dan cobain ternyata hasilnya memusakan. Bukan hanya baksonya tapi rasa sumsum sapinya yang super gurih bikin lidah ketagihan" ucap Sari salah satu konsumen dengan wajah sumringah. 





Sahabat Jakarta pasti sudah tak asing dengan kuliner yang satu ini. Ya, bakso yang sudah menjadi kuliner sejuta umat kini berhasil meningkatkan kepopulerannya dengan berbagai macam inovasi nan menarik yang bisa menarik perhatian konsumen. Tidak hanya menggunakan daging sapi khas dalam saja, beberapa produsen bakso kini pun sudah mulai berani mencampurkan tulang dan bahkan sumsun sapi untuk dijadikan teman makan bakso.

Salah satu produsen yang mengembangkan kuliner baksonya adalah Ibu Tri Peni Nursiwi. Ide jenius dalam berbisnis yang ia miliki mampu membuatnya berdiri dalam keberhasilan. Hal itu terbukti dari banyaknya konsumen yang meramaikan kedainya yang berlokasi di Jl komsen Jati Asih, Bekasi Selatan. Tri Peni menuturkan bahwa kedainya itu memang selalu ramai dipenuhi konsumen, kebanyakan dari mereka mengaku penasaran akan bakso balungan yang ia jual. 

" Awalnya kepengen tau bakso balungan itu apa, terus pas udah kesini dan cobain ternyata hasilnya memuaskan. Bukan hanya baksonya tapi rasa sumsum sapinya yang super gurih bikin lidah ketagihan" ucap Sari salah satu konsumen dengan wajah sumringah. Ini adalah pertama kalinya mahasiswa jurusan DKV itu datang ke kedai Bakso Balungan.

lokasi bersebrangan dengan pom bensin Jati Asih
(sumber foto: lamjo.com)
" Ya sepadan lah sama harganya, meskipun lokasinya ada di pinggir Ibu kota saya sih berharap kedai ini buka cabang di Jakarta" tutur Erna salah satu pengunjung yang datang dari Mampang.

Bukan hanya balungan saja, kedai ini menawarkan berbagai macam jenis bakso lengkap dengan minumannya. Seporsi bakso balungan dihargai sebesar dua puluh delapan ribu rupiah dan segelas es dawet dihargai sebesar tiga belas ribu rupiah.

Bagi Sahabat Jakarta yang menggemari makanan ini, silahkan datang ke kedai Ibu Tri Peni. Kedai ini buka setiap hari dari pukul saepuluh pagi sampai sepuluh malam and for your information aja nih kedai ini sangat ramai, akan lebih baik datang lebih awal jika tak ingin mengantri menunggu kursi, dan tentunya kehabisan sepotong tulang balungan isi sumsum super. (FDA)

Senin, 01 Desember 2014

Gambar 10.3  Salah seorang warga
 yang membuka bengkel dadakan

" Keuntungan yang besar pada saat banjir"

Jakarta-Akibat banjir yang terjadi di jalan KH. Abdullah Syafei, membuat kendaraan bermotor pada mogok. Hal tersebut dikarenakan para pengendara memaksakan kendaraannya untuk melewati jalan tersebut yang tergenang air.

Peristiwa banjir tersebut membuat para montir motor membuka lapak mereka di tengah jalan untuk membantu para pengendara yang kendaraanya mogok. Kendaraan yang lebih berdominasi mogok yaitu para pengendara motor. “Kerusakan yang terjadi pada kendaraan bermotor adalah bermasalahnya pada busi, busi kemasukan air’ kata Ipunk, salah satu montir bengkel.

Para montir standby ditengah jalan. Mereka akan standby di tempat sampai jalan sudah surut. Mereka tidak mematok harga untuk seiap kendaraan yang mogok. Mereka di bayar dengan ikhlas. “Harga setiap motor tidak ditentukan, hasil pun tidak menentu. Paling kecil Rp 5000 dan paling besar Rp 15.000” ucap Ipunk sang montir. (Fadzri)

Berita terkait :





Gambar 10.2 Kendaraan 
mogok akibat banjir

"Akibat memaksakan diri untuk melewati banjir, alhasil kendaraan jadi mogok"


Jakarta-Banjir yang terjadi dibeberapa titik didaerah Jakarta mengakibatkan sebagian jalan dan perkampungan terendam air. Salah satunya yang terjadi di daerah Kp. Melayu Besar dan Kp. Melayu Kecil di jalan KH. Abdullah Syafei, Tebet, Jakarta. Di daerah ini terjadi banjir yang cukup tinggi, di Kp. Melayu Besar ketinggian banjir sekitar 50 cm sedangkan di Kp. Melayu Kecil ketinggian di perkirakan sekitar 1-2 meter.

Di sebagian jalur di jalan KH. Abdullah Syafei terendam banjir dengan ketinggian +50 cm. Banjir ini mengakibatkan kemacetan yang panjang dari arah Kuningan ke arah Kp. Melayu. Para pengendara motor yang memaksa melewati jalan tersebut sebagian berhasil melewati jalan tersebut tanpa mogok, tetapi ada juga yang mogok. Tidak hanya motor saja yang mogok, mobil pun juga ada yang mogok.

Kendaraan yang lebih banyak mogok yaitu motor. “Sebenarnya ada jalan alternative yang tidak banjir, seperti Pancoran dan Otista, namun disana macet” menurut Dede, karyawan swasta.
“Masyarakat seharusnya membantu pemerintah yang baru agar tidak terjadi banjir lagi dengan cara hal kecil yaitu tidak membuang sampah sembarangan” kata Dede. Pemerintah juga sudah  berusaha untuk mengatasi agar tidak terjadi banjir lagi. (Fadzri)

Gambar 10.1 Banjir menyebabkan 
lalu lintas terputus

" Dapat kiriman air berlebihan dari Bogor, mengakibatkan satu jalur di jalan KH. Abdullah Syafei banjir."

  
Jakarta- Akibat curah hujan tinggi yang terjadi di Bogor, membuat debit air di kali Ciliwung meluap, sehingga di beberapa titik didaerah Jakarta mengalami banjir, salah satunya di jalan KH. Abdullah Syafei, Tebet, Jakarta Selatan, pada Kamis (20/11).
Ketinggian genangan air yang menutupi jalan KH. Abdullah Syafei sekitar 50 cm dan mengakibatkan kemacetan dari arah Kuniangan ke arah Kampung Melayu. Kemacetan terjadi sekitar 500 meter.

Banjir juga terjadi di Kampung Melayu Besar dan Kampung Melayu Kecil. Daerah tertinggi yang banjir di Kampung Melayu Kecil, besar ketinggian banjir + 1-2 meter, sedangkan ketinggian di Kampung Melayu Besar hanya 50cm.Bantuan yang sudah ada di lokasi banjir yaitu Tim Basarnas, Kepolisian, Polo Air, dan PU. “Kita sudah mengerahkan 70 personil Basarnas, 7 mobil dan 5 perhu karet, 3 dari Basarnas Jakarta, 2 dari Basarnas Pusat” ucap Kordinator Basarnas, Bapak Agolo.
Tindakan yang sudah dilakukan oleh Tim Basarnas dan Kepolisian dari pagi baru bersiaga. Akan tetapi dari pihak PU sudah melakukan memompa air. (Fadzri) 

Gambar 6.3 Satlantas menjadi tempat naungan untuk 
tindak pelanggalaran lalu lintas

Kemacetan sulit ditangani karena penyempitan jalan yang awalnya 3 jalur, sekarang menjadi 1 jalur"


(Jakarta, 1/11) Ibukota Jakarta terkenal dengan kota yang tidak pernah tidur. Dari pagi hingga malam tidak pernah lepas dari kemacetan. Baik weekday maupun weekend. Disinilah peran Satuan Polisi Lalu Lintas (Satlantas).
Ketika terjun ke lapangan, polisi bertugas mengatur lalu lintas. Saat terjadi kemacetan, polisilah yang bertanggungjawab untuk mengatasinya. Jika tidak ada kemacetan, peran polisi hanya memantau dan menegur pengendara yang melanggar aturan.

Tidak ada batasan waktu untuk polisi bertugas. Pada dasarnya, polisi harus 24 jam mengatur dan memantau lalu lintas. Hanya saja disesuaikan dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh atasan.
Sebagai anggota, Prayitno (45 thn) biasa bertugas di Jalan Raya Pondok  Gede, Unit Makasar. “Kemacetan sulit ditangaani karena penyempitan jalan yang awalnya 3 jalur, sekarang menjadi 1 jalur, serta pengendara yang tidak taat peraturan”, imbuhnya.

Kendala yang terjadi saat bertugas, antara lain pengendara yang jelas-jelas melanggar aturan tetapi tidak merasa bersalah. Sehingga, ketika dikenai sangsi, pengendara banyak yang mengelak.
Bicara mengenai kemacetan tidak ada yang harus disalahkan. Semua saling berkaitan satu sama lain, antara pemerintah, pengendara, dan masyarakat umum lainnya. (Indah)

Berita Terkait :

Inovasi Baru Transjakarta

Gambar 6.1 Transjakarta merupakan transportasi umum yang murah
, aman, dan nyaman. (Foto: Indah)

“Pertanggal 1 November 2014, untuk koridor 8 dan 9 sudah full menggunakan E-ticket. Program ini bertujuan supaya tidak terjadi penumpukan penumpang di loket.”



(Jakarta, 1/11) Kemacetan di Jakarta tidak bisa dihindari. Setiap harinya, pengguna jalan raya semakin tidak bisa diatasi. Maka dari itu, pemerintah membuat alternatif untuk mengatasinya.Transjakarta dipilih sebagai transportasi umum yang sangat tepat untuk memenuhi kegiatan aktivitas warga Jakarta. Awal pertama kali dioperasikan pada tahun 2004. Sambutan dari masyarakat masih dingin dan banyak yang belum mengerti menggunakannya.

Setelah pemerintah gencar membangun koridor di beberapa titik di Jakarta, masyarakat mulai menanggapi. Khususnya untuk di Pinang Ranti, pertama kali dioperasikan pada akhir tahun 2010. “Dari awal beroperasi, masyarakat sudah menyambut baik, hanya saja sering terjadi penumpukan penumpang di halte. Karena jalur busway yang belum steril, sehingga putaran arus balik bus menjadi terhambat karena kendaraan pribadi juga ikut menggunakannya”, ujar Isna selaku pegawai Transjakarta di koridor 9 Pinang Ranti – Pluit.

Pada awal pembukaan koridor 9, belum ada Satuan Pengisian Bahan Gas (SPBG) di samping halte. Sehingga untuk mengisi BBG harus dilaksanakan di Kampung Rambutan yang memakan waktu lebih dari 1 jam. Setelah SPBG Pinang Ranti dibuka, bus bisa digunakan kembali setelah 15 menit.
Dari awal dibukanya koridor 9, jumlah peningkatan penumpang sangat signifikan. Tetapi setalah berlakunya program E-ticket (tiket elektronik), jumlah perubahannya belum terlihat. Karena penumpang yang hanya sekali menggunakan bus, belum bisa terhitung.

E-ticket sudah dilaksanakan sekitar 2 bulan yang lalu. Tapi di beberapa koridor masih ada yang menggunakan tiket manual. Isna menambahkan, “Pertanggal 1 November 2014, untuk koridor 8 dan 9 sudah full menggunakan E-ticket. Program ini bertujuan supaya tidak terjadi penumpukan penumpang di loket”. E-ticket bisa didapatkan di halte busway maupun bank-bank yang sudah bekerja sama dengan Transjakarta. Kartu E-ticket seharga Rp 40.000,- sudah mendapatkan saldo Rp 20.000,-. Jika saldo habis, penumpang bisa mengisi saldo di halte ataupun menggunakan rekening sendiri. Kendala yang terjadi saat pelaksanaan E-ticket, yaitu penumpang komplaint dengan alasan sekali pakai.

Transjakarta juga memberlakukan sistem baru, yaitu bus 24 jam. Sistem ini sudah diberlakukan di beberapa koridor, antara lain koridor 1, 3, dan 9. “Sistem ini bertujuan untuk membantu masyarakat yang kerjanya pulang larut malam supaya tidak terlantar dan merasa aman karena untuk bus patas sendiri sudah mulai dihapuskan oleh pemerintah”, ujar Fernando Damanik, selaku Supervisor Transjakarta koridor PGC – Pluit.

Jumlah peningkatan penumpang terjadi dari pukul 05.00 – 09.00 dan 15.30 – 22.00 WIB. Kemacetan terjadi disebabkan meningkatnya jumlah mobil pribadi setiap harinya. Sudah ada transportasi umum tetapi tidak dimanfaatkan dan masih banyak pengguna jalan yang melanggar aturan menggunakan jalur busway. Tetapi setelah diberlakukan steril jalur, pada saat jam berangkat maupun pulang kerja, transjakarta menjdi lebih cepat.

“Untuk masyarakat yang masih menggunakan kendaraan pribadi, supaya beralih menggunakan transporatasi umum untuk membantu pemerintah mengurangi kemacetan di Jakarta. Jika perlu, sistem peraturan diperketat seperti pembayaran parkir lebih mahal”, tukas Fernando menutup obrolannya. (Indah)

Gambar 6.2 Kemacetan sudah menjadi makanan sehari-hari 
warga Jakarta (Foto: Tian)

" Motor dipilih sangat tepat karena mengingat jalanan di Jakarta sangat macet dengan akses jalan yang sulit, menggunakan motor lebih efisien dan hemat biaya juga." 



(Jakarta, 22/10) Setiap harinya kemacetan di Jakarta tidak bisa diatasi. Khususnya dari kalangan mahasiswa lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi seperti motor.
Pada umumnya penggunaan kendaraan umum, seperti kereta, atau bus, digunakan saat berpergian jauh keluar kota. Kendala yang terjadi saat musim hujan, Jakarta tergenang air. Aktivitas masyarakat menjadi terhambat, dan kemacetan semakin parah. Hampir di setiap sudut Jakarta memiliki titik kemacetan.

Sebagai mahasiswa, Badi (21 thn) kesehariannya hanya kuliah yang melewati daerah Cengkareng sampai Blok M. “Titik macet yang dilewati antara lain, Cengkareng, Daan Mogot dan apalagi sedang ada pembaruan jalan antisipasi dari pemerintah untuk mengatasi banjir di jalan tersebut, serta jalan panjang, radio dalam, hingga fatmawati”, ujarnya.
Meskipun banjir sudah menjadi langganan di Jakarta, bagi sebagian pengguna jalan selama akses jalan yang ingin kita lewati masih bisa dilalui, aktivitas masih bisa dikita jalani walaupun dipaksa apalagi jika aktivitas tersebut sangatlah penting. Sebagai pengguna jalan, kita harus tau jalan alternatif guna untuk menghindari kemacetan.

Penggunaan angkutan umum dibandingkan motor, sangatlah tidak efisien waktu dan pengeluaran juga semakin membengkak. Untuk kemacetan di Jakarta, tidak ada yang bisa disalahkan. Apalagi pemerintah dan masyarakat juga sebagai pengguna jalan, mempunyai urusan masing-masing.
Jika diperhatikan, saat ini banyak anak di bawah umur yang sudah menggunakan motor, ini merupakan sikap yang salah. Tidak bisa dipungkiri banyak orang tua yang sudah memberikan motor untuk anak-anak di bawah umur dengan alasan kepentingan yang berbeda-beda, lebih efisien dan menghemat pengeluaran.

Harapan kedepannya sebagai pengguna jalan harus bisa jaga sikap, seperti menaati rambu-rambu lalu lintas, melintas dijalur yang seharusnya. Setidaknya mengurangi kemacetan walau hanya kemungkinan kecil. (Indah)